Ummi atau Angkatan Laut
PROKLAMASI
Merdeka!
Dengan ini kami rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinja Pemerintah Gubernur Tentara dari ALRI, melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan mendjadi bagian dari Republik Indonesia memenuhi Proklamasi 17 Agustus 1945, jang ditanda tangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta.
Hal-hal jang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetesan darah jang penghabisan.
Tetap Merdeka!
Kandangan, 17 Mei IV Republik
Atas nama rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara
Hassan Basry
”Alhamdulillah..akhirnya selesai juga,” ucapku sambil mengerak-gerakkan seluruh badanku yang selama dua hari ini asyik di depan komputer. Entah kenapa sejak aku berada di kelas XI SMA dan sampai saat ini, aku senang sekali mengumpulkan sejarah tentang perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
”Karena dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kita ada pembahasan tentang pejuangan. Jadi, gimana kalau minggu depan kita ke Museum Wasaka?” Kata bu Nabilah. “Sekaligus memperingati tanggal 20 Mei?” sambung beliau.
”Bu...,” aku segera mengacungkan tangan karena aku merasa ada sesuatu yang membingungkan dalam pertanyaan bu Nabilah. Bu Nabilah adalah guru pengajar Bahasa Indonesia kelas XI di sekolahku. Beliau adalah guru yang sangat baik dan jarang sekali marah. Hal itulah yang membuat aku berani mengacungkan tanganku. Karena sebenarnya aku adalah seorang yang enggan mengangkat tangan, kecuali keadaan yang sangat mendesak untuk mengacungkan jari telunjuk tangan kananku. Maklum, aku ’kan murid baru di kelas ini. So, aku agak malu untuk bertanya. Apalagi kepada guru-guru yang kuanggap killer. Makanya, kalau di kelas aku lebih sering bertanya kepada teman sebangkuku, Amir yang juga menjabat sebagai ketua kelas. Walaupun kadang-kadang aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari teman yang sudah aku anggap sebagai sahabat terbaikku itu.
”Ya...ada apa Fikri?”
Ya...Fikri. Lengkapnya Akhmad Fikri Hassan, itulah namaku. Nama yang aku dapatkan sejak aku lahir ke dunia ini. Nama yang aku dapatkan dari seorang ummi dan abi yang sampai saat ini sangat menyayangiku. Dan nama dari orang yang sampai saat ini tidak mempunyai adik, apalagi kakak. Padahal aku ingin sekali mempunyai seorang saudara yang dapat menemaniku selama berada di rumah selain dengan ummi yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.
”Ehm...saya mau nanya Bu. Museum Wasaka itu dimana ya Bu?” Tanyaku dengan memasang wajah yang benar-benar bingung. Soalnya, jujur saja aku gak pernah dengar apa itu Museum Wasaka.
Dengan penuh kesabaran, bu Nabilah menjelaskan kepadaku dan kepada teman-teman yang lain. ”Museum Wasaka adalah nama sebuah museum yang merupakan akronim dari Waja Sampai Kaputing. Bangunan museum itu berupa bangunan dengan arsitektur rumah adat Banjar yang berada di Jalan Kampung Kenanga, Banjarmasin Utara. Museum Wasaka itu juga berdiri persis di tepian Sungai Martapura. Di dalam museum itu terdapat koleksi-koleksi dari Kalimantan Selatan. Tapi, kebanyakan mengoleksi berbagai jenis senjata tradisional dan senjata peninggalan komandan ALRI divisi empat Brigjen H. Hassan Basry.”
Mendengar penjelasan tersebut, aku terdiam. Aku terkejut karena aku mendengar kata-kata ’ALRI Divisi IV’. Kata-kata yang baru pertama kali ini aku dengar. Tapi sepertinya tidak hanya aku, karena teman-temanku pun terdiam. Mungkin kata-kata yang dijelaskan bu Nabilah adalah kata-kata yang jarang mereka dengar.
”Museum Wasaka buka setiap hari. Tapi hanya buka dari pukul 08.00 Wita-pukul 12.00 Wita saja. Jadi kita harus pergi pagi-pagi dan pulang tengah hari,” sambung bu Nabilah.
”Kalau gitu Bu, kapan kita pergi kesana?” tanya Amir setelah selama beberapa detik tak ada suara yang menimpali penjelasan dari bu Nabilah.
”Bagaimana kalau kita pergi hari Rabu depan, yaitu tanggal 21 Mei?”
”Setuju...!” kali ini semua murid yang berada di dalam kelas menimpali pertanyaan bu Nabilah.
Sejak saat itulah aku bersemangat untuk mencari segala berita yang berhubungan dengan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Karena aku baru pertama kali mendengar kata-kata itu, makanya aku berusaha untuk mencari tambahan pengetahuan mengenai hal tersebut. Dalam berita-berita yang aku dapatkan, aku sangat kagum kepada semua pejuang Kalimantan Selatan yang telah berjuang untuk mempertahankan Kalsel dari serangan kolonialis Belanda yang tetap ingin berkuasa di bumi tanah air Indonesia. Walaupun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, mereka tidak peduli dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Akhirnya, Proklamasi 17 Mei 1949 di Desa Mandapai, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel dilaksanakan dan merupakan bagian dari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 dengan tujuan yang sama, yakni merdeka dan bebas dari penjajahan.
Proklamasi 17 Mei 1949 yang dibacakan Hasan Basri, Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan untuk menyatakan kepada pemerintah RI serta dunia, bahwa gerilya ALRI Divisi IV benar-benar ada.
Proklamasi ini memang tak terlepas dari peranan kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan sebagai wadah mempersatukan gerakan perjuangan rakyat di Kalsel melawan pemerintah kolonial NICA-Belanda.
Pernyataan Proklamasi 17 Mei 1949 ini juga tak terlepas dari perjanjian Linggar Jati pada 4 Mei 1947 yang menyatakan Belanda secara de facto hanya mengakui Negara Kesatuan (NKRI) atas Jawa, Madura dan Sumatera, sedangkan Kalimantan ingin dipisah.
Pembentukan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Hasan Basri dan kawan-kawan atas keyakinan untuk ikut mengawal dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berada dalam bahaya, serta memastikan Kalimantan tetap menjadi bagian integral NKRI.
Dengan dasar tersebut, maka begitu ada peluang menyatakan kemerdekaan, maka Proklamasi 17 Mei 1949 dikumandangkan dengan memiliki dua tujuan utama yakni merdeka dan tetap dalam wadah NKRI.
Kemudian, 1 November 1949 ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan dilikuidasi menjadi Kesatuan Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat dengan panglimanya Letkol Hassan Basry. Kira-kira itulah sekilas berita tentang pembentukan ALRI Divisi IV yang saat itu berusaha untuk merebut Kalimantan dari tangan kolonial Belanda agar masuk ke dalam NKRI yang aku dapatkan.
Mengingat apa yang aku lakukan sampai sekarang, aku jadi tersenyum sendiri dan mulai membayangkan sosok diriku sebagai seorang Angkatan Laut Republik Indonesia.
”Fikri...kok belum tidur?” ummi membuyarkan lamunanku.
”Ehm...lagi ngumpulin berita aja kok, Mi!” jawabku. ”Bentar lagi juga tidur,” sambungku.
”Oh...kalau sudah selesai, cepat tidur ya? Nanti kamu kecapean lagi. Ini kan udah larut malam.”
”Iya, Mi,” ucapku sambil mematikan komputer. ”Tapi kok Ummi belum tidur juga?” tanyaku saat Ummi mau menutup pintu kamarku.
”Tadi Ummi haus, jadi mau minum ke dapur. Eh...ternyata kamu belum tidur juga,” jawab Ummi sambil menutup pintu kamarku.
”Ya..udah, cepat tidur.”
”Iya...iya...!”
Pagi ini aku merasa tidak enak badan. Mungkin malam tadi aku memang terlalu larut tidur. Untunglah aku masih kuat untuk menunaikan shalat Shubuh dan setelah siap untuk pergi ke sekolah, aku segera menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
Hari ini aku pergi ke sekolah lagi setelah aku telah menyelesaikan UAN dan UAS beberapa waktu yang lalu. Tahun ini, aku dan teman-teman seangkatanku harus menempuh ujian dalam waktu tiga hari dengan jumlah dan batas nilai yang lebih banyak dari tahun lalu. Akan tetapi, kami semua tetap optimis untuk lulus ujian dengan nilai yang bagus.
”Gimana tidurnya malam tadi,” sapa ummi ketika aku tiba di ruang makan.
”Lumayan,” jawabku singkat. Walaupun aku sedikit bohong, tapi aku harus melakukan itu karena aku tidak mau ummi sampai khawatir dengan keadaanku.
”Kalau begitu cepat sarapan dan berangkat ke sekolah.”
”Baik, Ummi.”
Aku merasa sangat diperlakukan manja oleh ummi. Hal itu mungkin disebabkan karena aku adalah anak tunggal. Jadi, perhatian ummi kepadaku amatlah besar. Perhatian ummi itulah yang membuat aku bingung harus dengan cara bagaimana memberitahu ummi mengenai keinginanku melanjutkan sekolah ke tempat yang mungkin tidak akan mendapat persetujuan beliau. Aku dan abi telah membahas keinginanku ini, dan Alhamdulillah abi mengatakan ’ya’.
”Abi setuju aja,” jawab abi setelah aku menanyakan hal tersebut ketika ummi sedang tidak ada di rumah.
”Tapi hal ini juga harus mendapat persetujuan Ummi dulu,” sambung abi. ”Soalnya yang lebih merasa kehilanganmu nanti adalah Ummi.”
Jawaban pertama yang diucapkan abi begitu membuatku bahagia. Tapi yang kedua, aku merasa bingung harus melakukan apa.
”Ayo sana cepat pergi!” desak ummi. ”Nanti kamu terlambat. Tuh Abi sudah mau pergi. Kamu jadi ikut Abi kan?” ummi bertanya dan aku hanya diam. Aku terdiam karena melihat betapa perhatiannya seorang ummi yang tengah berada di depanku ini. Aku terdiam melihat betapa tuanya seorang ummi yang telah membesarkan aku hingga saat ini.
Dalam hati, aku merasa tidak ingin berpisah dengan ummi. Tapi keinginanku untuk menjadi seorang Hassan Basry modern, apakah akan aku enyahkan? Tapi tidak mungkin juga aku berpisah dengan ummi. Karena aku yakin ummi akan merasa sangat terpukul dengan kepergianku untuk menjangkau cita-citaku itu. Apa yang harus aku lakukan agar semuanya berjalan lancar? Pertanyaan yang belum aku jawab untuk sekarang. ”Ahh...aku bingung...!” desahku dalam hati. Akhirnya aku pergi ke sekolah dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Sesampainya aku di sekolah, aku pun belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk semua pertanyanku. Akhirnya aku bertanya kepada orang yang aku anggap dapat memberikan solusi terbaik untukku sekarang ini, yaitu Amir.
”Sebaiknya kamu shalat dulu. Kamu minta petunjuk sama Allah. Mudah-mudahan kamu diberi hidayah dan dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang kamu hadapi. Karena semua permasalahan berasal dari Allah dan kepada Allah jua lah kita meminta pertolongan,” jawab Amir setelah aku menjelaskan apa yang sedang aku pertanyakan sejak berada di rumah pagi tadi.
”Ehm...terima kasih ya, Mir,” ucapku setelah mendapat jawaban yang begitu bijaksana dari seorang ketua kelas dan ketua KSI (Kajian Studi Islam) di sekolahku. ”Memang pantas seorang Amir mendapatkan jabatan seperti yang ia jalani sekarang,” gumamku dalam hati.
”Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan.”
”Sekali lagi terima kasih ya...!”
”Sama-sama,” ucap Amir sambil berlalu meninggalkanku yang pertanyaannya kini sudah hampir terjawab.
Selama di sekolah, aku tak melakukan sesuatu yang berarti. Karena aku hanya diam di kelas dan masih memikirkan cara untuk menyampaikan keinginanku kepada ummi. Di dalam kelas aku hanya sendirian karena teman-teman yang lain sedang asyik bergembira ria merayakan ’pesta selesai ujian’. Tapi ada juga yang sedang dalam keadaan harap-harap cemas, karena kami belum menerima hasil ujian. Aku pun berharap semoga aku dan teman-temanku mendapat yang terbaik.
Kira-kira pukul 12.00 Wita barulah aku pulang. Tapi sebelum pulang aku menyempatkan diri dulu untuk shalat Dzuhur. Karena dengan shalat aku merasa lega dan nyaman untuk melakukan apa pun.
Karena hari ini aku diantar abi, akhirnya aku harus bertengger di depan gerbang sekolah untuk menunggu jemputan. Aku malas kalau harus naik taksi. Sebab setiap kali aku naik taksi, aku pasti kejedot pintu taksi ketika turun. Aku pun tak mau menyusahkan abi dengan antar-jemput seperti ini. Tapi mau gimana lagi, motorku masih di bengkel karena kemarin dipinjam om Joni, tetangga sebelah dan katanya nabrak pohon. Jadi, harus diperbaiki dan perbaikannya gak bisa selesai dengan cepat. Kesal juga sih, tapi apa juga yang bisa aku lakukan.
Setelah aku mencoba menelepon abi berkali-kali, ternyata abi lagi ada meeting di luar dengan kepala bank lainnya. Maklum, abi ’kan kepala bank jadi istilah meeting pasti ada dalam schedule abi. Kesal lagi deh...!
”Teet...teet...,” klakson motor di belakangku membunyikan suaranya yang ribut.
”Assalammu’alaikum,” sapa seseorang yang tadi membunyikan klakson motornya.
”Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menoleh ke belakang. Eh, ternyata yang membunyikan klakson adalah sahabatku, Amir.
”Belum pulang?” tanyanya.
”Belum,” kataku. ”Aku lagi nunggu Abi,” sambungku. ”Tadi sih katanya ada pertemuan, jadi aku disuruh nunggu.”
”Ohh...,” ucapnya. ”Mau kuantar?” ajaknya.
Setelah berpikir dan negosiasi yang lumayan memakan waktu, akhirnya aku menyetujui ajakannya. Tapi karena aku gak bawa helm jadi Amir terpaksa membawaku lewat jalan yang gak ada pos polisinya.
Sesampainya di rumah, Amir langsung pamit pulang tanpa turun dari motor. Katanya sih ada urusan lagi. ”Emang orang sibuk,” gumamku.
Siang ini, aku langsung menuju ke kamar setelah menemui ummi dan melihat ’Proklamasi’ yang aku print malam tadi. Niatku untuk menjadi seorang Angkatan Laut semakin mengebu-gebu. Dalam hati aku berniat untuk mengutarakan keinginanku ini kepada ummi dan aku akan optimis dengan apa yang akan terjadi nanti. Tapi cara untuk menyampaikannya aku belum tahu. Karena aku takut ummi akan merasa sakit hati. Oh...ya Allah tunjukanlah jalan yang terbaik untukku. Amin....
Jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 15.00 Wita. Itu artinya aku masih sempat istirahat dulu, sebelum waktu Ashar tiba. Soalnya aku merasa sangat capai. Semoga aku mendapatkan suatu hidayah dalam mimpiku nanti. Setelah berdoa, kamarku pun penuh keheningan.
”Pokoknya kalau kamu pergi, Ummi gak akan menganggap kamu anak lagi...!”
”Tapi, Mi?”
”Ummi gak akan rela kalau kamu pergi...!”
”Brak....” suara pintu menghentikan pertengkaran yang terjadi.
Karena kaget bercampur perasaan tak percaya, aku pun menangis sesengukan. Tiba-tiba...
”Fikri...Fikri...!”
”Astaghfirullahaladzim,” aku kaget begitu ummi membangunkanku.
”Fikri...kok tidur dulu. Kan kamu belum makan?” tanya ummi.
”Eh...oh...iya ya...,” jawabku sambil terbata-bata. ”Tadi Fikri cape banget, Mi. Jadi langsung tidur aja....”
”Ya sudah...shalat Ashar dulu, baru makan,” perintah ummi sambil meninggalkan kamarku dan aku mengikutinya sampai ke dapur untuk mencuci muka dan berwudhu.
Saat aku makan, hari sudah menunjukkan pukul 17.00 Wita. Saat itu juga aku mendengar suara mobil abi dan itu berarti abi baru tiba di rumah. Sambil makan aku masih memikirkan mimpi yang tadi siang aku alami. Apakah mimpi itu sebuah pertanda atau hanya suatu khayalanku saja. Aku jadi tidak karuan makan karena memikirkan hal itu. Aku berharap semoga mimpi itu tidak sesuai dengan kenyataan yang akan terjadi nanti. Semoga yang akan terjadi tidak seseram dalam mimpiku. ”Ya Allah, kabulkanlah segala doa-doaku. ”Amin....” harapku dalam hati.
Aku tidak mau berlama-lama lagi. Aku ingin segera mengutarakan keinginanku ini. Karena itulah setelah aku menunaikan shalat Maghrib secara berjama’ah dengan kedua orang tuaku, aku langsung melanjutkannya dengan shalat taubat, tasbih dan hajat. Di dalam semua shalat yang aku kerjakan, aku selalu membubuhkan harapanku untuk mendapat ridha dari ummi.
Ketika kami selesai wirid setelah shalat Isya, aku pun segera menyampaikan maksudku. Karena hal ini telah aku rundingkan dengan abi, jadi abi tidak terkejut ketika aku mengatakan hal tersebut. Tapi apa yang terjadi pada ummi. Untuk beberapa menit ummi hanya diam seribu bahasa. Kadang mengeluarkan desahan tanpa arti. Aku jadi bingung dengan apa yang aku lihat pada diri ummi. Kebingunganku bertambah ketika ummi langsung beranjak pergi dari hadapan aku dan abi. Tanpa mengeluarkan kata sehuruf pun, ummi pergi menuju kamarnya dan langsung menutup pintu kamar.
”Sudahlah,” abi mencoba menghiburku. ”Mungkin ummi hanya terkejut dengan apa yang dia dengar dari kamu.”
Aku hanya diam menanggapi perkataan abi. Tapi dalam hati aku pun mengiyakan. Aku yakin hal ini pasti akan terjadi. ”Jadi, apa yang harus aku lakukan, ya Allah...?” tanyaku dalam hati.
Paginya aku semakin merasa tidak enak badan. Apalagi pagi ini ummi tidak menunjukkan perhatiannya seperti pagi-pagi yang dulu. Aku merasa ummi malah menunjukkan sifat acuh tak acuh terhadap keadaanku pagi ini. Aku jadi takut kalau mimpi yang aku alami siang kemarin benar-benar akan terjadi. Naudzubillahimindzalik.
Kucoba untuk tetap turun ke sekolah walaupun aku merasa sangat tidak enak badan. Aku berharap semoga Amir dapat membantu permasalahanku yang semakin rumit. ”Ya Allah, sebenarnya apa yang Kau takdirkan kepadaku?” tanyaku dalam hati.
”Ehm...sejujurnya kamu lebih memilih ibumu atau cita-citamu?” tanya Amir ketika aku selesai menceritakan apa yang terjadi malam tadi.
”Kalau aku memang benar harus memilih, maka aku akan memilih ummi,” jawabku dengan penuh keyakinan.
”Kalau begitu sebaiknya kamu urungkan saja niatmu untuk menjadi seorang Angkatan Laut. Karena kalau kamu memaksakan kehendakmu, takutnya ibumu akan semakin terpukul dan malah tidak meridhai apa yang kamu lakukan. Kamu gak mau kan kalau semua itu terjadi?”
”Iya juga sih.”
Akhirnya aku putuskan untuk melupakan keinginanku dan menjadi apa yang ummi dan abi inginkan untuk aku lakukan sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.
Seperti kemarin, aku pulang setelah mengerjakan shalat Dzuhur. Aku ingin cepat pulang dan meminta ampun kepada ummi dengan apa yang kulakukan kepada ummi malam tadi. Hari ini aku pulang dengan menggunakan motor karena motorku sudah selesai diperbaiki.
Ketika aku tiba di rumah, aku bingung karena ummi tidak berada di rumah. Dengan kata lain tak ada orang lain di rumah. Kucoba untuk menghubungi handphone kedua orang tuaku. Tapi tak ada satu pun yang aktif. Aku juga mencoba menghubungi kantor abi, tapi kata pegawai di sana abi sudah keluar kira-kira satu jam yang lalu. Kejadian siang ini membuatku lelah, lapar dan semakin tidak enak badan. Jadi, kuputuskan untuk makan dan istirahat.
Syukurlah ummi sudah menyiapkan makanan untukku. Jadi, sambil makan aku masih memikirkan keberadaan kedua orang tuaku sekarang. Karena aku makin bingung, maka setelah makan aku segera menghubungi keluarga yang mungkin dikunjungi ummi dan abi. Tapi hasilnya nihil. Karena tak ada satu pun keluarga dekatku yang mengetahui keberadaan mereka sekarang. ”Ahh...aku makin gak enak badan,” desahku dalam hati.
Saat itu juga aku segera minum obat dan istirahat. Karena kalau aku sakit, maka permasalahannya akan bertambah rumit. Aku segera tertidur ketika jam menunjukkan pukul 14.58 Wita.
Saat aku terbangun, jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 17.40 Wita. Itu artinya aku hampir tertinggal shalat Ashar. Aku cepat-cepat berwudhu dan mengerjakan shalat Ashar. Walaupun aku terlambat shalat, tapi aku tetap berusaha untuk tidak tergesa-gesa dalam mengerjakannya.
Setelah selesai shalat, aku segera menyalakan lampu seluruh ruangan karena hari mulai gelap. Walaupun hari sudah mulai malam, tapi kedua orang tuaku belum juga nampak batang hidungnya. ”Padahal aku sangat ingin mengubah perkataanku malam kemarin. Tapi kalau mereka gak ada gimana aku mau meralat perkataanku,” desahku dalam hati.
Hingga saat tiba waktu Maghrib, ummi dan abi belum juga datang. Aku semakin khawatir dengan keadaan mereka sekarang. Aku hanya bisa berharap mereka baik-baik saja.
”Assalammua’alaikum,” salam dari ummi dan abi membuyarkan lamunanku. Aku segera menjemput mereka ke depan pintu rumah dan membanjiri mereka dengan semua pertanyaan yang ingin aku dapatkan jawabannya dari mulut mereka.
”Oh...jadi kalian sedang pergi ke suatu tempat,” ucapku ketika ummi dan abi telah duduk tenang di sofa. ”Memangnya Ummi sama Abi pergi kemana?” sambungku. ”Trus kenapa handphone Ummi dan Abi tidak ada yang aktif?”
”Oh...itu karena handphone Abi tadi kehabisan baterai dan handphone ummi ketinggalan di rumah dan kata ummi handphonenya tadi lagi di-charge, jadi lupa dibawa,” Abi menjawab ketika ummi berlalu menuju dapur. ”
Setelah mendengarkan penjelasan abi yang panjang lebar, tak lama kemudian ummi keluar dengan membawa seteko air teh dan setoples kue kering. Aku merasa ummi sekarang tidak marah lagi kepadaku. Buktinya, saat itu kami sering tertawa ceria sambil menunggu waktu shalat Isya tiba. Tak berapa lama, adzan Isya pun berkumandang. Setelah shalat Isya kuputuskan untuk meralat perkataanku malam kemarin. Jadi, setelah selesai shalat dan ketika ummi sedang mempersiapkan makan malam, aku segera mengatakan apa yang hendak aku katakan siang tadi.
”Ummi, Abi, Fikri mau mengatakan suatu hal yang mungkin akan membuat Ummi dan Abi lega,” ucapku mengawali pembicaraan ketika ummi dan abi aku pinta untuk berkumpul sejenak di ruang keluarga. ”Fikri mau meralat perkataan Fikri malam kemarin. Fikri tahu kalau keinginan Fikri untuk menjadi seorang Angkatan Laut gak mungkin Ummi dan Abi setujui,” sambungku sambil berhenti sejenak. ”Maka dari itu....”
”Eits...tunggu dulu,” abi menghentikan pembicaraanku dan menyerahkan selembar kertas semacam brosur yang bertuliskan ’Angkatan Laut’ di atasnya.
”A...ap...a ini Abi?” tanyaku dengan wajah kebingungan.
”Sebenarnya Ummi setuju saja kamu sekolah di Angkatan Laut,” kata ummi menjawab pertanyaan yang sebenarnya kutunjukkan pada abi.
”Jadi, Ummi dan Abi setuju kalau aku sekolah di sana?”
Kulihat ummi dan abi mengangguk. Itu artinya aku diizinkan untuk bersekolah di tempat yang sangat aku inginkan.
”Alhamdulillah...!” ucapku ketika melihat anggukan kepala kedua orang tuaku. Saking senangnya aku sampai sujud syukur saat itu juga.
”Terima kasih Ummi, terima kasih Abi,” ucapku sambil mencium tangan keduanya. ”Terima kasih, ya Allah. Kau memang sebenar-benarnya Maha Penyayang kepada setiap umat-Mu...!”
”Eh...jangan senang dulu,” ummi mencegahku untuk berbahagia terlalu besar. ”Kamu harus janji kalau kamu bisa jaga diri dan berhasil untuk meraih cita-cita kamu secepatnya. Karena Ummi dan Abi gak mau tanggung jawab kalau kamu melakukan suatu hal yang tidak seharusnya. Mengerti?”
”Oke deh, Ummi. Fikri akan berusaha dengan sebaik-sebaiknya.”
”Ehm...tadi katanya kamu mau meralat sesuatu?” ummi mengingatkanku dengan apa yang hendak aku katakan tadi.
”Ehm...tapi sesuatu yang ingin Fikri katakan tadi sepertinya tidak perlu dikatakan lagi sekarang,” jawabku dengan senyum mengembang.
Ummi dan abi geleng-geleng kepala saja mendengar jawabanku. ”Dasar,” kata mereka.
Merdeka!
Dengan ini kami rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinja Pemerintah Gubernur Tentara dari ALRI, melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan mendjadi bagian dari Republik Indonesia memenuhi Proklamasi 17 Agustus 1945, jang ditanda tangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta.
Hal-hal jang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetesan darah jang penghabisan.
Tetap Merdeka!
Kandangan, 17 Mei IV Republik
Atas nama rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara
Hassan Basry
”Alhamdulillah..akhirnya selesai juga,” ucapku sambil mengerak-gerakkan seluruh badanku yang selama dua hari ini asyik di depan komputer. Entah kenapa sejak aku berada di kelas XI SMA dan sampai saat ini, aku senang sekali mengumpulkan sejarah tentang perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
”Karena dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kita ada pembahasan tentang pejuangan. Jadi, gimana kalau minggu depan kita ke Museum Wasaka?” Kata bu Nabilah. “Sekaligus memperingati tanggal 20 Mei?” sambung beliau.
”Bu...,” aku segera mengacungkan tangan karena aku merasa ada sesuatu yang membingungkan dalam pertanyaan bu Nabilah. Bu Nabilah adalah guru pengajar Bahasa Indonesia kelas XI di sekolahku. Beliau adalah guru yang sangat baik dan jarang sekali marah. Hal itulah yang membuat aku berani mengacungkan tanganku. Karena sebenarnya aku adalah seorang yang enggan mengangkat tangan, kecuali keadaan yang sangat mendesak untuk mengacungkan jari telunjuk tangan kananku. Maklum, aku ’kan murid baru di kelas ini. So, aku agak malu untuk bertanya. Apalagi kepada guru-guru yang kuanggap killer. Makanya, kalau di kelas aku lebih sering bertanya kepada teman sebangkuku, Amir yang juga menjabat sebagai ketua kelas. Walaupun kadang-kadang aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari teman yang sudah aku anggap sebagai sahabat terbaikku itu.
”Ya...ada apa Fikri?”
Ya...Fikri. Lengkapnya Akhmad Fikri Hassan, itulah namaku. Nama yang aku dapatkan sejak aku lahir ke dunia ini. Nama yang aku dapatkan dari seorang ummi dan abi yang sampai saat ini sangat menyayangiku. Dan nama dari orang yang sampai saat ini tidak mempunyai adik, apalagi kakak. Padahal aku ingin sekali mempunyai seorang saudara yang dapat menemaniku selama berada di rumah selain dengan ummi yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.
”Ehm...saya mau nanya Bu. Museum Wasaka itu dimana ya Bu?” Tanyaku dengan memasang wajah yang benar-benar bingung. Soalnya, jujur saja aku gak pernah dengar apa itu Museum Wasaka.
Dengan penuh kesabaran, bu Nabilah menjelaskan kepadaku dan kepada teman-teman yang lain. ”Museum Wasaka adalah nama sebuah museum yang merupakan akronim dari Waja Sampai Kaputing. Bangunan museum itu berupa bangunan dengan arsitektur rumah adat Banjar yang berada di Jalan Kampung Kenanga, Banjarmasin Utara. Museum Wasaka itu juga berdiri persis di tepian Sungai Martapura. Di dalam museum itu terdapat koleksi-koleksi dari Kalimantan Selatan. Tapi, kebanyakan mengoleksi berbagai jenis senjata tradisional dan senjata peninggalan komandan ALRI divisi empat Brigjen H. Hassan Basry.”
Mendengar penjelasan tersebut, aku terdiam. Aku terkejut karena aku mendengar kata-kata ’ALRI Divisi IV’. Kata-kata yang baru pertama kali ini aku dengar. Tapi sepertinya tidak hanya aku, karena teman-temanku pun terdiam. Mungkin kata-kata yang dijelaskan bu Nabilah adalah kata-kata yang jarang mereka dengar.
”Museum Wasaka buka setiap hari. Tapi hanya buka dari pukul 08.00 Wita-pukul 12.00 Wita saja. Jadi kita harus pergi pagi-pagi dan pulang tengah hari,” sambung bu Nabilah.
”Kalau gitu Bu, kapan kita pergi kesana?” tanya Amir setelah selama beberapa detik tak ada suara yang menimpali penjelasan dari bu Nabilah.
”Bagaimana kalau kita pergi hari Rabu depan, yaitu tanggal 21 Mei?”
”Setuju...!” kali ini semua murid yang berada di dalam kelas menimpali pertanyaan bu Nabilah.
Sejak saat itulah aku bersemangat untuk mencari segala berita yang berhubungan dengan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Karena aku baru pertama kali mendengar kata-kata itu, makanya aku berusaha untuk mencari tambahan pengetahuan mengenai hal tersebut. Dalam berita-berita yang aku dapatkan, aku sangat kagum kepada semua pejuang Kalimantan Selatan yang telah berjuang untuk mempertahankan Kalsel dari serangan kolonialis Belanda yang tetap ingin berkuasa di bumi tanah air Indonesia. Walaupun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, mereka tidak peduli dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Akhirnya, Proklamasi 17 Mei 1949 di Desa Mandapai, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel dilaksanakan dan merupakan bagian dari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 dengan tujuan yang sama, yakni merdeka dan bebas dari penjajahan.
Proklamasi 17 Mei 1949 yang dibacakan Hasan Basri, Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan untuk menyatakan kepada pemerintah RI serta dunia, bahwa gerilya ALRI Divisi IV benar-benar ada.
Proklamasi ini memang tak terlepas dari peranan kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan sebagai wadah mempersatukan gerakan perjuangan rakyat di Kalsel melawan pemerintah kolonial NICA-Belanda.
Pernyataan Proklamasi 17 Mei 1949 ini juga tak terlepas dari perjanjian Linggar Jati pada 4 Mei 1947 yang menyatakan Belanda secara de facto hanya mengakui Negara Kesatuan (NKRI) atas Jawa, Madura dan Sumatera, sedangkan Kalimantan ingin dipisah.
Pembentukan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Hasan Basri dan kawan-kawan atas keyakinan untuk ikut mengawal dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berada dalam bahaya, serta memastikan Kalimantan tetap menjadi bagian integral NKRI.
Dengan dasar tersebut, maka begitu ada peluang menyatakan kemerdekaan, maka Proklamasi 17 Mei 1949 dikumandangkan dengan memiliki dua tujuan utama yakni merdeka dan tetap dalam wadah NKRI.
Kemudian, 1 November 1949 ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan dilikuidasi menjadi Kesatuan Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat dengan panglimanya Letkol Hassan Basry. Kira-kira itulah sekilas berita tentang pembentukan ALRI Divisi IV yang saat itu berusaha untuk merebut Kalimantan dari tangan kolonial Belanda agar masuk ke dalam NKRI yang aku dapatkan.
Mengingat apa yang aku lakukan sampai sekarang, aku jadi tersenyum sendiri dan mulai membayangkan sosok diriku sebagai seorang Angkatan Laut Republik Indonesia.
”Fikri...kok belum tidur?” ummi membuyarkan lamunanku.
”Ehm...lagi ngumpulin berita aja kok, Mi!” jawabku. ”Bentar lagi juga tidur,” sambungku.
”Oh...kalau sudah selesai, cepat tidur ya? Nanti kamu kecapean lagi. Ini kan udah larut malam.”
”Iya, Mi,” ucapku sambil mematikan komputer. ”Tapi kok Ummi belum tidur juga?” tanyaku saat Ummi mau menutup pintu kamarku.
”Tadi Ummi haus, jadi mau minum ke dapur. Eh...ternyata kamu belum tidur juga,” jawab Ummi sambil menutup pintu kamarku.
”Ya..udah, cepat tidur.”
”Iya...iya...!”
Pagi ini aku merasa tidak enak badan. Mungkin malam tadi aku memang terlalu larut tidur. Untunglah aku masih kuat untuk menunaikan shalat Shubuh dan setelah siap untuk pergi ke sekolah, aku segera menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
Hari ini aku pergi ke sekolah lagi setelah aku telah menyelesaikan UAN dan UAS beberapa waktu yang lalu. Tahun ini, aku dan teman-teman seangkatanku harus menempuh ujian dalam waktu tiga hari dengan jumlah dan batas nilai yang lebih banyak dari tahun lalu. Akan tetapi, kami semua tetap optimis untuk lulus ujian dengan nilai yang bagus.
”Gimana tidurnya malam tadi,” sapa ummi ketika aku tiba di ruang makan.
”Lumayan,” jawabku singkat. Walaupun aku sedikit bohong, tapi aku harus melakukan itu karena aku tidak mau ummi sampai khawatir dengan keadaanku.
”Kalau begitu cepat sarapan dan berangkat ke sekolah.”
”Baik, Ummi.”
Aku merasa sangat diperlakukan manja oleh ummi. Hal itu mungkin disebabkan karena aku adalah anak tunggal. Jadi, perhatian ummi kepadaku amatlah besar. Perhatian ummi itulah yang membuat aku bingung harus dengan cara bagaimana memberitahu ummi mengenai keinginanku melanjutkan sekolah ke tempat yang mungkin tidak akan mendapat persetujuan beliau. Aku dan abi telah membahas keinginanku ini, dan Alhamdulillah abi mengatakan ’ya’.
”Abi setuju aja,” jawab abi setelah aku menanyakan hal tersebut ketika ummi sedang tidak ada di rumah.
”Tapi hal ini juga harus mendapat persetujuan Ummi dulu,” sambung abi. ”Soalnya yang lebih merasa kehilanganmu nanti adalah Ummi.”
Jawaban pertama yang diucapkan abi begitu membuatku bahagia. Tapi yang kedua, aku merasa bingung harus melakukan apa.
”Ayo sana cepat pergi!” desak ummi. ”Nanti kamu terlambat. Tuh Abi sudah mau pergi. Kamu jadi ikut Abi kan?” ummi bertanya dan aku hanya diam. Aku terdiam karena melihat betapa perhatiannya seorang ummi yang tengah berada di depanku ini. Aku terdiam melihat betapa tuanya seorang ummi yang telah membesarkan aku hingga saat ini.
Dalam hati, aku merasa tidak ingin berpisah dengan ummi. Tapi keinginanku untuk menjadi seorang Hassan Basry modern, apakah akan aku enyahkan? Tapi tidak mungkin juga aku berpisah dengan ummi. Karena aku yakin ummi akan merasa sangat terpukul dengan kepergianku untuk menjangkau cita-citaku itu. Apa yang harus aku lakukan agar semuanya berjalan lancar? Pertanyaan yang belum aku jawab untuk sekarang. ”Ahh...aku bingung...!” desahku dalam hati. Akhirnya aku pergi ke sekolah dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Sesampainya aku di sekolah, aku pun belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk semua pertanyanku. Akhirnya aku bertanya kepada orang yang aku anggap dapat memberikan solusi terbaik untukku sekarang ini, yaitu Amir.
”Sebaiknya kamu shalat dulu. Kamu minta petunjuk sama Allah. Mudah-mudahan kamu diberi hidayah dan dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang kamu hadapi. Karena semua permasalahan berasal dari Allah dan kepada Allah jua lah kita meminta pertolongan,” jawab Amir setelah aku menjelaskan apa yang sedang aku pertanyakan sejak berada di rumah pagi tadi.
”Ehm...terima kasih ya, Mir,” ucapku setelah mendapat jawaban yang begitu bijaksana dari seorang ketua kelas dan ketua KSI (Kajian Studi Islam) di sekolahku. ”Memang pantas seorang Amir mendapatkan jabatan seperti yang ia jalani sekarang,” gumamku dalam hati.
”Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan.”
”Sekali lagi terima kasih ya...!”
”Sama-sama,” ucap Amir sambil berlalu meninggalkanku yang pertanyaannya kini sudah hampir terjawab.
Selama di sekolah, aku tak melakukan sesuatu yang berarti. Karena aku hanya diam di kelas dan masih memikirkan cara untuk menyampaikan keinginanku kepada ummi. Di dalam kelas aku hanya sendirian karena teman-teman yang lain sedang asyik bergembira ria merayakan ’pesta selesai ujian’. Tapi ada juga yang sedang dalam keadaan harap-harap cemas, karena kami belum menerima hasil ujian. Aku pun berharap semoga aku dan teman-temanku mendapat yang terbaik.
Kira-kira pukul 12.00 Wita barulah aku pulang. Tapi sebelum pulang aku menyempatkan diri dulu untuk shalat Dzuhur. Karena dengan shalat aku merasa lega dan nyaman untuk melakukan apa pun.
Karena hari ini aku diantar abi, akhirnya aku harus bertengger di depan gerbang sekolah untuk menunggu jemputan. Aku malas kalau harus naik taksi. Sebab setiap kali aku naik taksi, aku pasti kejedot pintu taksi ketika turun. Aku pun tak mau menyusahkan abi dengan antar-jemput seperti ini. Tapi mau gimana lagi, motorku masih di bengkel karena kemarin dipinjam om Joni, tetangga sebelah dan katanya nabrak pohon. Jadi, harus diperbaiki dan perbaikannya gak bisa selesai dengan cepat. Kesal juga sih, tapi apa juga yang bisa aku lakukan.
Setelah aku mencoba menelepon abi berkali-kali, ternyata abi lagi ada meeting di luar dengan kepala bank lainnya. Maklum, abi ’kan kepala bank jadi istilah meeting pasti ada dalam schedule abi. Kesal lagi deh...!
”Teet...teet...,” klakson motor di belakangku membunyikan suaranya yang ribut.
”Assalammu’alaikum,” sapa seseorang yang tadi membunyikan klakson motornya.
”Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menoleh ke belakang. Eh, ternyata yang membunyikan klakson adalah sahabatku, Amir.
”Belum pulang?” tanyanya.
”Belum,” kataku. ”Aku lagi nunggu Abi,” sambungku. ”Tadi sih katanya ada pertemuan, jadi aku disuruh nunggu.”
”Ohh...,” ucapnya. ”Mau kuantar?” ajaknya.
Setelah berpikir dan negosiasi yang lumayan memakan waktu, akhirnya aku menyetujui ajakannya. Tapi karena aku gak bawa helm jadi Amir terpaksa membawaku lewat jalan yang gak ada pos polisinya.
Sesampainya di rumah, Amir langsung pamit pulang tanpa turun dari motor. Katanya sih ada urusan lagi. ”Emang orang sibuk,” gumamku.
Siang ini, aku langsung menuju ke kamar setelah menemui ummi dan melihat ’Proklamasi’ yang aku print malam tadi. Niatku untuk menjadi seorang Angkatan Laut semakin mengebu-gebu. Dalam hati aku berniat untuk mengutarakan keinginanku ini kepada ummi dan aku akan optimis dengan apa yang akan terjadi nanti. Tapi cara untuk menyampaikannya aku belum tahu. Karena aku takut ummi akan merasa sakit hati. Oh...ya Allah tunjukanlah jalan yang terbaik untukku. Amin....
Jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 15.00 Wita. Itu artinya aku masih sempat istirahat dulu, sebelum waktu Ashar tiba. Soalnya aku merasa sangat capai. Semoga aku mendapatkan suatu hidayah dalam mimpiku nanti. Setelah berdoa, kamarku pun penuh keheningan.
”Pokoknya kalau kamu pergi, Ummi gak akan menganggap kamu anak lagi...!”
”Tapi, Mi?”
”Ummi gak akan rela kalau kamu pergi...!”
”Brak....” suara pintu menghentikan pertengkaran yang terjadi.
Karena kaget bercampur perasaan tak percaya, aku pun menangis sesengukan. Tiba-tiba...
”Fikri...Fikri...!”
”Astaghfirullahaladzim,” aku kaget begitu ummi membangunkanku.
”Fikri...kok tidur dulu. Kan kamu belum makan?” tanya ummi.
”Eh...oh...iya ya...,” jawabku sambil terbata-bata. ”Tadi Fikri cape banget, Mi. Jadi langsung tidur aja....”
”Ya sudah...shalat Ashar dulu, baru makan,” perintah ummi sambil meninggalkan kamarku dan aku mengikutinya sampai ke dapur untuk mencuci muka dan berwudhu.
Saat aku makan, hari sudah menunjukkan pukul 17.00 Wita. Saat itu juga aku mendengar suara mobil abi dan itu berarti abi baru tiba di rumah. Sambil makan aku masih memikirkan mimpi yang tadi siang aku alami. Apakah mimpi itu sebuah pertanda atau hanya suatu khayalanku saja. Aku jadi tidak karuan makan karena memikirkan hal itu. Aku berharap semoga mimpi itu tidak sesuai dengan kenyataan yang akan terjadi nanti. Semoga yang akan terjadi tidak seseram dalam mimpiku. ”Ya Allah, kabulkanlah segala doa-doaku. ”Amin....” harapku dalam hati.
Aku tidak mau berlama-lama lagi. Aku ingin segera mengutarakan keinginanku ini. Karena itulah setelah aku menunaikan shalat Maghrib secara berjama’ah dengan kedua orang tuaku, aku langsung melanjutkannya dengan shalat taubat, tasbih dan hajat. Di dalam semua shalat yang aku kerjakan, aku selalu membubuhkan harapanku untuk mendapat ridha dari ummi.
Ketika kami selesai wirid setelah shalat Isya, aku pun segera menyampaikan maksudku. Karena hal ini telah aku rundingkan dengan abi, jadi abi tidak terkejut ketika aku mengatakan hal tersebut. Tapi apa yang terjadi pada ummi. Untuk beberapa menit ummi hanya diam seribu bahasa. Kadang mengeluarkan desahan tanpa arti. Aku jadi bingung dengan apa yang aku lihat pada diri ummi. Kebingunganku bertambah ketika ummi langsung beranjak pergi dari hadapan aku dan abi. Tanpa mengeluarkan kata sehuruf pun, ummi pergi menuju kamarnya dan langsung menutup pintu kamar.
”Sudahlah,” abi mencoba menghiburku. ”Mungkin ummi hanya terkejut dengan apa yang dia dengar dari kamu.”
Aku hanya diam menanggapi perkataan abi. Tapi dalam hati aku pun mengiyakan. Aku yakin hal ini pasti akan terjadi. ”Jadi, apa yang harus aku lakukan, ya Allah...?” tanyaku dalam hati.
Paginya aku semakin merasa tidak enak badan. Apalagi pagi ini ummi tidak menunjukkan perhatiannya seperti pagi-pagi yang dulu. Aku merasa ummi malah menunjukkan sifat acuh tak acuh terhadap keadaanku pagi ini. Aku jadi takut kalau mimpi yang aku alami siang kemarin benar-benar akan terjadi. Naudzubillahimindzalik.
Kucoba untuk tetap turun ke sekolah walaupun aku merasa sangat tidak enak badan. Aku berharap semoga Amir dapat membantu permasalahanku yang semakin rumit. ”Ya Allah, sebenarnya apa yang Kau takdirkan kepadaku?” tanyaku dalam hati.
”Ehm...sejujurnya kamu lebih memilih ibumu atau cita-citamu?” tanya Amir ketika aku selesai menceritakan apa yang terjadi malam tadi.
”Kalau aku memang benar harus memilih, maka aku akan memilih ummi,” jawabku dengan penuh keyakinan.
”Kalau begitu sebaiknya kamu urungkan saja niatmu untuk menjadi seorang Angkatan Laut. Karena kalau kamu memaksakan kehendakmu, takutnya ibumu akan semakin terpukul dan malah tidak meridhai apa yang kamu lakukan. Kamu gak mau kan kalau semua itu terjadi?”
”Iya juga sih.”
Akhirnya aku putuskan untuk melupakan keinginanku dan menjadi apa yang ummi dan abi inginkan untuk aku lakukan sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.
Seperti kemarin, aku pulang setelah mengerjakan shalat Dzuhur. Aku ingin cepat pulang dan meminta ampun kepada ummi dengan apa yang kulakukan kepada ummi malam tadi. Hari ini aku pulang dengan menggunakan motor karena motorku sudah selesai diperbaiki.
Ketika aku tiba di rumah, aku bingung karena ummi tidak berada di rumah. Dengan kata lain tak ada orang lain di rumah. Kucoba untuk menghubungi handphone kedua orang tuaku. Tapi tak ada satu pun yang aktif. Aku juga mencoba menghubungi kantor abi, tapi kata pegawai di sana abi sudah keluar kira-kira satu jam yang lalu. Kejadian siang ini membuatku lelah, lapar dan semakin tidak enak badan. Jadi, kuputuskan untuk makan dan istirahat.
Syukurlah ummi sudah menyiapkan makanan untukku. Jadi, sambil makan aku masih memikirkan keberadaan kedua orang tuaku sekarang. Karena aku makin bingung, maka setelah makan aku segera menghubungi keluarga yang mungkin dikunjungi ummi dan abi. Tapi hasilnya nihil. Karena tak ada satu pun keluarga dekatku yang mengetahui keberadaan mereka sekarang. ”Ahh...aku makin gak enak badan,” desahku dalam hati.
Saat itu juga aku segera minum obat dan istirahat. Karena kalau aku sakit, maka permasalahannya akan bertambah rumit. Aku segera tertidur ketika jam menunjukkan pukul 14.58 Wita.
Saat aku terbangun, jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 17.40 Wita. Itu artinya aku hampir tertinggal shalat Ashar. Aku cepat-cepat berwudhu dan mengerjakan shalat Ashar. Walaupun aku terlambat shalat, tapi aku tetap berusaha untuk tidak tergesa-gesa dalam mengerjakannya.
Setelah selesai shalat, aku segera menyalakan lampu seluruh ruangan karena hari mulai gelap. Walaupun hari sudah mulai malam, tapi kedua orang tuaku belum juga nampak batang hidungnya. ”Padahal aku sangat ingin mengubah perkataanku malam kemarin. Tapi kalau mereka gak ada gimana aku mau meralat perkataanku,” desahku dalam hati.
Hingga saat tiba waktu Maghrib, ummi dan abi belum juga datang. Aku semakin khawatir dengan keadaan mereka sekarang. Aku hanya bisa berharap mereka baik-baik saja.
”Assalammua’alaikum,” salam dari ummi dan abi membuyarkan lamunanku. Aku segera menjemput mereka ke depan pintu rumah dan membanjiri mereka dengan semua pertanyaan yang ingin aku dapatkan jawabannya dari mulut mereka.
”Oh...jadi kalian sedang pergi ke suatu tempat,” ucapku ketika ummi dan abi telah duduk tenang di sofa. ”Memangnya Ummi sama Abi pergi kemana?” sambungku. ”Trus kenapa handphone Ummi dan Abi tidak ada yang aktif?”
”Oh...itu karena handphone Abi tadi kehabisan baterai dan handphone ummi ketinggalan di rumah dan kata ummi handphonenya tadi lagi di-charge, jadi lupa dibawa,” Abi menjawab ketika ummi berlalu menuju dapur. ”
Setelah mendengarkan penjelasan abi yang panjang lebar, tak lama kemudian ummi keluar dengan membawa seteko air teh dan setoples kue kering. Aku merasa ummi sekarang tidak marah lagi kepadaku. Buktinya, saat itu kami sering tertawa ceria sambil menunggu waktu shalat Isya tiba. Tak berapa lama, adzan Isya pun berkumandang. Setelah shalat Isya kuputuskan untuk meralat perkataanku malam kemarin. Jadi, setelah selesai shalat dan ketika ummi sedang mempersiapkan makan malam, aku segera mengatakan apa yang hendak aku katakan siang tadi.
”Ummi, Abi, Fikri mau mengatakan suatu hal yang mungkin akan membuat Ummi dan Abi lega,” ucapku mengawali pembicaraan ketika ummi dan abi aku pinta untuk berkumpul sejenak di ruang keluarga. ”Fikri mau meralat perkataan Fikri malam kemarin. Fikri tahu kalau keinginan Fikri untuk menjadi seorang Angkatan Laut gak mungkin Ummi dan Abi setujui,” sambungku sambil berhenti sejenak. ”Maka dari itu....”
”Eits...tunggu dulu,” abi menghentikan pembicaraanku dan menyerahkan selembar kertas semacam brosur yang bertuliskan ’Angkatan Laut’ di atasnya.
”A...ap...a ini Abi?” tanyaku dengan wajah kebingungan.
”Sebenarnya Ummi setuju saja kamu sekolah di Angkatan Laut,” kata ummi menjawab pertanyaan yang sebenarnya kutunjukkan pada abi.
”Jadi, Ummi dan Abi setuju kalau aku sekolah di sana?”
Kulihat ummi dan abi mengangguk. Itu artinya aku diizinkan untuk bersekolah di tempat yang sangat aku inginkan.
”Alhamdulillah...!” ucapku ketika melihat anggukan kepala kedua orang tuaku. Saking senangnya aku sampai sujud syukur saat itu juga.
”Terima kasih Ummi, terima kasih Abi,” ucapku sambil mencium tangan keduanya. ”Terima kasih, ya Allah. Kau memang sebenar-benarnya Maha Penyayang kepada setiap umat-Mu...!”
”Eh...jangan senang dulu,” ummi mencegahku untuk berbahagia terlalu besar. ”Kamu harus janji kalau kamu bisa jaga diri dan berhasil untuk meraih cita-cita kamu secepatnya. Karena Ummi dan Abi gak mau tanggung jawab kalau kamu melakukan suatu hal yang tidak seharusnya. Mengerti?”
”Oke deh, Ummi. Fikri akan berusaha dengan sebaik-sebaiknya.”
”Ehm...tadi katanya kamu mau meralat sesuatu?” ummi mengingatkanku dengan apa yang hendak aku katakan tadi.
”Ehm...tapi sesuatu yang ingin Fikri katakan tadi sepertinya tidak perlu dikatakan lagi sekarang,” jawabku dengan senyum mengembang.
Ummi dan abi geleng-geleng kepala saja mendengar jawabanku. ”Dasar,” kata mereka.